Tuesday, September 25, 2007

Buka Bareng Lagi Yuk...

Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau hulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria
(Brothers: Untukmu Teman)

Ramadhan dulu sekali...

Seolah hilang rasa lapar dan dahaga ketika bertemu kalian. Bersama berkumpul dalam kegembiraan berjumpa dengan Tuhan. Bukankah salah satu kegembiraan di bulan ini berjumpa dengan Tuhanmu? selain berjumpa dengan kalian juga sahabat (Jurusan T. Sipil '03). Tapi maaf ... ketidakhadiran buka bareng kemarin bukan disengaja. Tapi apa masih perlu penjelasan soal ketidakhadiran? Saya yakin jawabannya gak perlu, udah lewat...

Sepertinya kita (terutama saya nih) masih perlu banyak belajar soal kebersamaan ya. Seperti halnya kita mesti banyak belajar soal Islam. Bukankah Islam yang mengajarkan kita tentang pentingnya kebersamaan.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Ar Rahman akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang." (Maryam 96)

Dan belum cukupkah pelajaran yang diberikan oleh para sahabat untuk kita tentang arti kebersamaan? kebersamaan yang ini bukanlah tentang ikatan-ikatan semu: darah, kabilah, wilayah, ras atau warna kulit. Tidakkah cukup... pelajaran dari mereka yang mampu duduk sejajar dan mesra dalam sebuah majelis mulia, Abu Bakar yang seorang bangsawan Arab, Shuhaib imigran Romawi, Salman pengembara Persia, juga... Bilal, bekas budak Negro Habasyah.

Jelas kita pantas malu... pada mereka. So, kapan buka bareng lagi??? ditunggu. Tapi jangan minta saya jadi sponsor atau donatur ya Vir. He... he...


Sunday, September 23, 2007

Standar Hidup Seorang Mukmin


Banyak orang yang merasa sudah modern kemudian meninggalkan agamanya. Para remaja seringkali malu-malu ketika ingin memasuki komunitas yang selalu berupaya meninggikan risalah yang dibawa muhammad ini, karena takut dicap 'gak gaul. Dan -meminjam istilah mbak Riza ST- takut dikatakan 'berwajah akhirat' (afwan mbak istilahnya dipinjam tanpa izin dan gak ada rencana untuk dipulangin ;-> ). Padahal, kali ini mengutip dari Ustadz M.Anis Matta, LC beliau katakan , "Menjadi mukmin itu mahal. Sangat Mahal."

Gak percaya, baik gak masalah tapi ente jangan kaget mendengar hadits berikut yang menjadi standar hidup seorang mukmin (diambil dari bukunya Salim A. Fillah pada bab dengan judul yang sama)

"Tiga kunci kebahagian seorang laki-laki: (1)isteri salihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang, jika kamu pergi membuatmu merasa aman karena bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu. (2) kendaraan yang baik, yang bisa mengantar kemanapun pergi. Dan, (3) rumah yang lapang, damai, penuh kasih sayang..." (HR Abu Dawud)

Tuh benarkan... Tapi mengapa yang menjadi standar kebahagiaan seorang lelaki tiga faktor tersebut...

untuk faktor pertama (1)

(gak perlu dibahas lagi, udah jelas) diceritakan pake nasyid aje ye...
Mencipta rumahnya, seindah surga
Menjaga akhlaqnya sebening mata
Qana'ah selendangnya dalam rumahtangga
Sejuk di kalbunya, tunduk pandangnya
(Suara Persaudaraan: Permata Dunia)

Untuk faktor kedua (2)

Kendaraan, dikatakan Salim, penting dan signifikan. Bisa mengantarkan kemanapun untuk berjuang. Contohnya pesawat pribadi dengan hanggar sendiri, tapi ingat bukan untuk sekadar foya-foya, for jihad men... tapi kalau belum ada ya kita bisa bernasyid lagi

Inilah dia kuda beroda dua
Kuda tunggangan tercanggih milik kita
Berlari dengan kecepatan sahaja
Memburu waktu alternatif yang ada

Sebuah kendaraan motor roda dua
Buatan pabrik dua windu kala
(Suara Persaudaraan: Zuhud III)

Jadi kalau belum ada pesawat pribadi, motor pabrikan dua windu kala juga okeh tu...

Faktor Ketiga (3)
Giamana ya bentuk rumah yang lapang, damai, penuh kasih sayang? Pastilah rumah yang menjadikan kita tenteram tapi tidak terlena. Menjadikan kita senang di dalamnya, tetapi juga membuat bersemangat untuk keluar berjihad. Meredakan lelah, tetapi juga menyalakan energi baru. Jadi bukan yang hanya luas dan lapang dalam bentuk fisiknya aja euy...

Nah jelaskan kalau standar mukmin itu luar biasa dan jelas jauh dari materialistik.

Wednesday, July 11, 2007

Demam Avatar





Avatar Saban Hari Kunjungi Sekre Joeang

Ada fenomena menarik di kalangan komunitas ‘antik’ di sekitar saya hari-hari ini. Dikatakan komunitas antik karena mereka adalah orang-orang aneh yang melakukan pekerjaan-pekerjaan aneh. Contoh; ngampus itu wajarnya sampai sore tetapi orang-orang ini bisa tetap stay di kampus sampai pagi kalau sedang banyak-banyaknya pekerjaan organisasi. Fenomenanya adalah tidak pernah mau ketinggalan melototin ’kotak ajaib’ buat menikmati aksi-aksi Aang sang Avatar. Apa yang menarik dari tontonan animasi ini? Nih saya kasih ringkasan ceritanya ya...


Avatar: The Last Airbender mengambil tempat di sebuah dunia fantasi, tempat tinggal manusia, berbagai binatang fantastik, dan roh-roh. Peradaban manusia terbagi-bagi menjadi empat bangsa, Suku Air (Water Tribe), Kerajaan Tanah (Earth Kingdom), Pengembara Udara (Air Nomads), dan Bangsa Api (Fire Nation). Dalam setiap bangsa ada orang-orang yang dipanggil "Bender" (Pembengkok, atau dalam hal ini pengendali) yang memiliki kemampuan mengendalikan unsur alam sesuai bangsa mereka. Seni mengendalikan unsur alam ini merupakan perpaduan gaya seni beladiri dan sihir unsur alam.

Dalam setiap generasi, ada seseorang yang mampu mengendalikan setiap unsur, ialah yang dipanggil sebagai Avatar, roh dari planet yang menitis dalam bentuk manusia. Ketika seorang Avatar meninggal dunia, dia akan terlahir kembali di bangsa yang gilirannya selalu bergantian sesuai dengan siklus Avatar (Avatar Cycle), yang seiring dengan musim: musim dingin untuk air, musim semi untuk tanah, musim panas untuk api, dan musim gugur untuk udara. Legenda mengatakan bahwa seorang Avatar harus mempelajari seni mengendalikan unsur sesuai dengan urutannya, dimulai dengan unsur asli bangsa sang Avatar, namun terkadang urutan ini bisa dilewat jika keadaan memaksa. Mempelajari pengendalian unsur yang berlawanan dengan unsur asli bangsa seseorang adalah hal yang teramat sulit karena perbedaan gaya seni beladiri dan doktrin-doktrinnya.

Seabad sebelum pembukaan cerita serial ini, Aang, seorang anak laki-laki pengendali angin berusia 12 tahun dari Kuil Udara Selatan milik kaum Pengembara Udara, diberitahu oleh para tetua bahwa ia adalah Sang Avatar. Biasanya, seorang Avatar diberitahu jatidirinya sebagai seorang Avatar ketika ia beranjak 16 tahun, namun, para biksu takut akan perang yang terjadi diantara keempat bangsa akan segera terjadi dan dalam waktu singkat seorang Avatar akan diperlukan untuk menjaga keseimbangan dan kedamaian dunia. Hal ini membuat Aang sangat kebingungan dan tertekan. Singkat cerita, Aang kabur dari Kuil Udara Selatan, namun di tengah jalan ia bertemu dengan badai yang sangat besar dan ia bersama Appa (seekor banteng terbang miliknya) jatuh tenggelam ke dalam laut. Tetapi Aang segera membuat udara dan membekukan air di sekitarnya sehingga Aang dan Appa terkurung di dalam bongkahan es. Dan petualangan dimulai...

Monday, June 4, 2007

Mahasiswa; Bergerak dan Berarti

Mahasiswa; Bergerak dan Berarti

Oleh: Fajri Ariefyanto
Penulis adalah Presiden BEM UNRI 2007-2008, mahasiswa Fakulas Teknik UNRI


Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa terjadinya suatu gerakan perubahan yang ada di sebuah bangsa dilakoni oleh para pemuda. Abdullah bin Masud ketika melihat pemuda yang menuntut ilmu maka dia berkata, ”Selamat ke atas kalian para pemuda wahai pancaran hikmah, penerang kegelapan dan pembaharu hati-hati”.

Secara fitrah, masa muda merupakan jenjang kehidupan manusia yang paling optimal. Dengan kematangan jasmani, perasaaan dan akalnya, sangat wajar jika kemudian pemuda, dalam hal ini juga mahasiswa, memiliki potensi yang besar dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan sekitar dimiliki oleh pemuda. Pemikiran kritis mereka didambakan untuk melakukan perubahan jika masyarakat terkungkung oleh tirani kezaliman dan kebodohan. Mereka juga motor penggerak kemajuan ketika masyarakat melakukan proses pembangunan. Sehingga baik buruknya keadaaan masyarakat kelak, bergantung pada kondisi pemuda dan mahasiswa saat ini.

Namun, potensi yang besar jika tidak diposisikan dengan benar tidak saja dapat memberikan kebaikan namun bisa saja menjadi bencana. Ibarat pedang yang tajam, ketajamannya tidak kemudian menjadi penentu bermanfaat-tidaknya pedang tersebut. Orang yang menggenggam pedang itu-lah yang akan menentukannya. Pedang yang tajam bisa saja kemudian digunakan untuk menumpas kebaikan dan mengibarkan panji-panji kemaksiatan, jika dipegang oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Sebaliknya ia bisa bermanfaat bagi orang lain jika berada di tangan yang benar. Demikian pula dengan potensi mahasiswa. Potensi tersebut bisa saja digunakan untuk menjunjung tinggi kebaikan, namun tidak tertutup kemungkinan digunakan untuk memperkokoh kejahatan dan kedurjanaan. Itulah sebabnya, begitu banyak contoh pemuda-mahasiswa yang berjasa menjadi pilar penentu kemajuan suatu peradaban, tetapi tidak sedikit pula di antara mereka yang mengakibatkan runtuhnya sendi-sendi peradaban dan menghancurkan kemuliaan suatu tatanan kehidupan.

Permasalahan kita ’kelelahan idealisme’

Hampir tidak ada yang membantah, jika akhir-akhir ini kita dihadapkan pada kondisi kelembagaan mahasiswa yang mesti mendapatkan pembenahan di sana sini. Mulai dari penyelenggaraan organisasi, kesigapan penyikapan isu-isu, hingga peningkatan kualitas mahasiswa sebagai subjek perubahan.

Faktor manusia merupakan hal utama yang selayaknya mendapatkan perhatian dari kita bersama, sehingga dari terbentuknya mahasiswa yang baik dan terbina secara pemikiran, jiwa dan raganya kemudian mampu dengan baik mentransformasikan nilai-nilai kebenaran tersebut dalam ruang gerak kelembagaaan mahasiswa kita.

Namun fenomena yang hari ini terjadi masih jauh dari kondisi yang kita inginkan bersama. Boleh jadi mahasiswa kita hari ini sedang mengalami kelelahan idealisme sebagaimana yang disinyalir oleh Syahrin Harahap dalam bukunya yang berjudul Penegakan Moral Akademik di Dalam dan Di Luar kampus sehingga menjadi pragmatis, terseret arus dan kemudian terjebak di dalamnya. Seperti yang juga dikatakan Aryanto, fenomena yang bisa kita lihat secara gamblang adalah matinya kelompok-kelompok diskusi di sebagian besar kalangan mahasiswa kita. Anehnya, justru yang muncul adalah kelompok-kelompok gosip. Bahkan gosip sekarang tidak lagi lakon tunggal si mahasiswi (baca:perempuan) akan tetapi juga menjangkiti si mahasiswa (baca:laki-laki). Tema-tema gosippun beragam. Misalnya saja, apa merek ponsel? apa merek bedak dan gincu?, tipe cowok/cewek idaman, artis idola, apa merek jeansmu? atau malam mingguan nongkrong di mana?. Bahkan majalah-majalah mode dan remaja menjadi dominan mengisi tas mereka ketimbang buku bacaan yang mencerdaskan. Kita menjadi bangga ketika kita memamerkan tipe HP keluaran terbaru atau merek-merek baju dan parfum terkenal. Atau sekedar memamerkan bagian-bagian tubuh hingga membentuk cetakan dan lekukan yang sebenarnya tidak pantas untuk dipamerkan.

Seruan untuk calon pengurus kelembagaan

Menjadi pengurus lembaga mahasiswa adalah sebuah pilihan sekaligus panggilan moral. Tidak semua orang mampu melakoninya, apalagi mengakhiri pilihannya tersebut dengan indah dan penuh prestasi. Menjadi pengurus lembaga kemahasiswaan harus siap (secara mental) menerima kritikan. Sebab kalau tidak, mereka akan dilindas oleh kekerdilan jiwa mereka sendiri.

Sudah sepatutnya kemudian jika tanggung jawab yang dilimpahkan kepada pengurus kelembagaan mahasiswa hari ini dilaksanakan sungguh-sungguh demi perbaikan. Sehingga benarlah kemudian jika tradisi perjuangan kita adalah demi menuju perbaikan bersama. lebih jauh, sesungguhnya secara de facto perbaikan yang akan kita perjuangkan ini merupakan tanggung jawab kita bersama seluruh civitas akademika Universitas Riau.

Hidup Mahasiswa...

Mari Bergerak dan Berarti...

Mahasiswa; Bergerak dan Berarti

Mahasiswa; Bergerak dan Berarti

Oleh: Fajri Ariefyanto
Penulis adalah Presiden BEM UNRI 2007-2008, mahasiswa Fakulas Teknik UNRI


Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa terjadinya suatu gerakan perubahan yang ada di sebuah bangsa dilakoni oleh para pemuda. Abdullah bin Masud ketika melihat pemuda yang menuntut ilmu maka dia berkata, ”Selamat ke atas kalian para pemuda wahai pancaran hikmah, penerang kegelapan dan pembaharu hati-hati”.

Secara fitrah, masa muda merupakan jenjang kehidupan manusia yang paling optimal. Dengan kematangan jasmani, perasaaan dan akalnya, sangat wajar jika kemudian pemuda, dalam hal ini juga mahasiswa, memiliki potensi yang besar dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan sekitar dimiliki oleh pemuda. Pemikiran kritis mereka didambakan untuk melakukan perubahan jika masyarakat terkungkung oleh tirani kezaliman dan kebodohan. Mereka juga motor penggerak kemajuan ketika masyarakat melakukan proses pembangunan. Sehingga baik buruknya keadaaan masyarakat kelak, bergantung pada kondisi pemuda dan mahasiswa saat ini.

Namun, potensi yang besar jika tidak diposisikan dengan benar tidak saja dapat memberikan kebaikan namun bisa saja menjadi bencana. Ibarat pedang yang tajam, ketajamannya tidak kemudian menjadi penentu bermanfaat-tidaknya pedang tersebut. Orang yang menggenggam pedang itu-lah yang akan menentukannya. Pedang yang tajam bisa saja kemudian digunakan untuk menumpas kebaikan dan mengibarkan panji-panji kemaksiatan, jika dipegang oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Sebaliknya ia bisa bermanfaat bagi orang lain jika berada di tangan yang benar. Demikian pula dengan potensi mahasiswa. Potensi tersebut bisa saja digunakan untuk menjunjung tinggi kebaikan, namun tidak tertutup kemungkinan digunakan untuk memperkokoh kejahatan dan kedurjanaan. Itulah sebabnya, begitu banyak contoh pemuda-mahasiswa yang berjasa menjadi pilar penentu kemajuan suatu peradaban, tetapi tidak sedikit pula di antara mereka yang mengakibatkan runtuhnya sendi-sendi peradaban dan menghancurkan kemuliaan suatu tatanan kehidupan.

Permasalahan kita ’kelelahan idealisme’

Hampir tidak ada yang membantah, jika akhir-akhir ini kita dihadapkan pada kondisi kelembagaan mahasiswa yang mesti mendapatkan pembenahan di sana sini. Mulai dari penyelenggaraan organisasi, kesigapan penyikapan isu-isu, hingga peningkatan kualitas mahasiswa sebagai subjek perubahan.

Faktor manusia merupakan hal utama yang selayaknya mendapatkan perhatian dari kita bersama, sehingga dari terbentuknya mahasiswa yang baik dan terbina secara pemikiran, jiwa dan raganya kemudian mampu dengan baik mentransformasikan nilai-nilai kebenaran tersebut dalam ruang gerak kelembagaaan mahasiswa kita.

Namun fenomena yang hari ini terjadi masih jauh dari kondisi yang kita inginkan bersama. Boleh jadi mahasiswa kita hari ini sedang mengalami kelelahan idealisme sebagaimana yang disinyalir oleh Syahrin Harahap dalam bukunya yang berjudul Penegakan Moral Akademik di Dalam dan Di Luar kampus sehingga menjadi pragmatis, terseret arus dan kemudian terjebak di dalamnya. Seperti yang juga dikatakan Aryanto, fenomena yang bisa kita lihat secara gamblang adalah matinya kelompok-kelompok diskusi di sebagian besar kalangan mahasiswa kita. Anehnya, justru yang muncul adalah kelompok-kelompok gosip. Bahkan gosip sekarang tidak lagi lakon tunggal si mahasiswi (baca:perempuan) akan tetapi juga menjangkiti si mahasiswa (baca:laki-laki). Tema-tema gosippun beragam. Misalnya saja, apa merek ponsel? apa merek bedak dan gincu?, tipe cowok/cewek idaman, artis idola, apa merek jeansmu? atau malam mingguan nongkrong di mana?. Bahkan majalah-majalah mode dan remaja menjadi dominan mengisi tas mereka ketimbang buku bacaan yang mencerdaskan. Kita menjadi bangga ketika kita memamerkan tipe HP keluaran terbaru atau merek-merek baju dan parfum terkenal. Atau sekedar memamerkan bagian-bagian tubuh hingga membentuk cetakan dan lekukan yang sebenarnya tidak pantas untuk dipamerkan.

Seruan untuk calon pengurus kelembagaan

Menjadi pengurus lembaga mahasiswa adalah sebuah pilihan sekaligus panggilan moral. Tidak semua orang mampu melakoninya, apalagi mengakhiri pilihannya tersebut dengan indah dan penuh prestasi. Menjadi pengurus lembaga kemahasiswaan harus siap (secara mental) menerima kritikan. Sebab kalau tidak, mereka akan dilindas oleh kekerdilan jiwa mereka sendiri.

Sudah sepatutnya kemudian jika tanggung jawab yang dilimpahkan kepada pengurus kelembagaan mahasiswa hari ini dilaksanakan sungguh-sungguh demi perbaikan. Sehingga benarlah kemudian jika tradisi perjuangan kita adalah demi menuju perbaikan bersama. lebih jauh, sesungguhnya secara de facto perbaikan yang akan kita perjuangkan ini merupakan tanggung jawab kita bersama seluruh civitas akademika Universitas Riau.

Hidup Mahasiswa...

Mari Bergerak dan Berarti...

Thursday, May 31, 2007

Sekedar Mengingatkan 'kiriman seorang teman'

Aneh..
from 'Hani'


Aneh melihat orang pacaran
kenapa 'berbuka' sebelum waktunya

Aneh
karena toh jodoh sudah ditentukan
kenapa pilih jalan yang salah untuk meraihnya

Tapi yang lebih aneh
kulihat para 'aktifis'
yang katanya anti pacaran
yang selama ini dijadikan panutan
dan contoh untuk ikhwah lain
dan adik-adiknya

terus-terus mencuri pandang
padahal
menundukkan pandangan
jauh lebih suci dan menenangkan

sembunyi-sembunyi sms ini itu
padahal isinya tak perlu

kadang juga terang-terangan email si dia
bilangnya sih ada yang penting
padahal terselip niat agar bisa mendekat

merekayasa kebaikan bagi si dia
titip ini titip itu

begitu antusias begitu menyangkut dia
tapi begitu berat saat amanah dakwah menanti

lupakah antum
masih banyak amanah da'wah yang harus dipikul
lupakah antum dengan penderitaan saudara-saudara kita
kenapa pikiran hanya seputar dia

tidakkah bisa antum bersabar
menunggu saat berbuka kelak
dari 'haraman fahisyan ke halalan thoyiban'

bukankah masih banyak obyek da'wah yang menanti
mengapa menghabiskan waktu untuk si dia
yang belum tentu tulang rusuk antum , ikhwah

bukankah da'wah harus berjalan di jalan yang lurus
bukankah harus di atas embun-embun keikhlasan
Di tetes-tetes ketawakalan dan di atas kesucian hati

Bukankah da'wah ditopang oleh pengembannya yang lurus
dengan sucinya hati


****************************************************************
Allah Ghayatuna-Muhammad Qudwatuna-Al-Quran Dusturuna-Jihad Sabiluna-Syahid Asma'amanina
**************************************************************************

Saturday, May 26, 2007

Penghargaan PII

Penghargaan bagi 11 Insinyur
Kamis, 24 Mei 2007 19:44 WIB

TEMPO Interaktif, BANDUNG:Penghargaan diberikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro yang juga Ketua Dewan Penasihat PII dalam pembukaan Rapat Pimpinan Nasional 2007 dan peringatan hari ulang tahun ke-55 PII di Gedung Merdeka Bandung kemarin. Acara yang dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu juga dihadiri sejumlah pejabat termasuk Menkokesra Aburizal Bakrie dan Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan. Penghargaan Darma Bakti Kehormatan diberikan kepada Achmad Noe’man, pencipta logo PII. Pria kelahiran Garut 10 Oktober 1926 lulusan Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung 1958 itu dinilai telah menghasilkan karya arsitektur yang monumental, seperti Mesjid Salman ITB Bandung. Sedangkan penghargaan Darma Bakti Profesi diberikan kepada Ciputra, developer yang dinilai telah memberi inspirasi terhadap industri properti terutama pada pengembangan kota mandiri. Lulusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung tahun 1960 itu dianggap berdedikasi cukup tinggi terhadap pengembangan karya arsitektur tanah air. Sembilan insinyur lainnya menerima penghargaan atas dedikasi dalam pengembangan energi terbarukan dan penghematan energi. Mereka adalah Kamarudin Abdullah (ITB), Hasan Hambali (Yayasan Heritage), Eddy Permadi (PT Cihanjuang Bandung), Tri Mumpuni (IBEKA), Djoni Bustan (Universitas Sriwijaya Palembang), John Budi Harjanto (Universitas Atmajaya Jakarta), Jimmy Priatman (UK Petra Surabaya), Eddy Prianto (Universitas Diponegoro Semarang), dan Sekartono (Sekjen BKM PII). Kamarudin Abdullah telah mengembangkan pengering tenaga surya untuk meningkatkan nilai tambah usaha pertanian dan perikanan. Hasan Hambali mengembangkan kincir angin untuk pemompaan dan penyediaan listrik sesuai iklim Indonesia. Sedangkan Eddy Permadi mengembangkan turbin air skala turbin crossflow, turbin propeler, turbin celup kapasitas 100 watt serta perangkat elektrikalnya. Produk-produk yang dihasilkan sudah terpasang ratusan unit dengan kapasitas 100 – 200 kilowatt di berbagai tempat di Indonesia. Penghargaan bagi Tri Mumpuni diberikan karena dia membantu pengadaan listrik lebih dari 50 desa di berbagai pelosok Indonesia dengan memanfaatkan energi air skala kecil. Djoni Bustan berhasil membuat peralatan yang dapat memproduksi bahan bakar pengganti minyak yang berasal dari minyak sawit, ampas tebu, dan batubara. Sedangkan John Budi Harjanto menciptakan alat penyejuk udara yang dirancang khusus untuk daerah tropis. Sementara Jimmy Priatman telah menghasilkan karya-karya rancangan gedung hemat energi. Begitu pula Eddy Prianto yang telah mendesain banyak rumah hemat energi khusus rumah tinggal dengan memperhatikan semua aspek yang mempengaruhi penggunaan energi di rumah. Sekartono dinilai sangat aktif mendukung kegiatan konservasi energi dengan merintis implementasi hemat energi pada bangunan sesuai IMB untuk DKI Jakarta.
rana akbari fitriawan