Friday, November 19, 2010

Catatan Hati Seorang Istri


Saat Cinta Berpaling
Saat Hati Menjelma Serpihan-serpihan kecil
Saat ujian demi ujianNya terasa terlalu berat untuk ditanggung sendiri
Maka kemana seorang istri harus mencari kekuatan
Agar hati mampu terus bertasbih?

Endorsment:
- Tak ada yang bisa menebak kedalam hati seorang wanita. Dan buku yang ditulis dengan penuh penjiwaan ini akan membuat anda mengerti mengapa wanita bisa tampil begitu kuat dibalik semua kelemahlembutannya. Karena dia adalah malaikat pelindung bagi hati-hati kecil yang dititipkan Allah untuknya. Two Thumbs Up!!! (Monica Oemardi)

- Dalam buku ini Asma Nadia bukan sekadar bercerita tentang perasaan dan tragedi perempuan, namun juga menyampaikan hal-hal yang tidak kita sangka dan bahkan lebih aneh dari fiksi secara amat menyentuh. (Helvy Tiana Rosa)

Download digibooknya di sini


Saturday, November 13, 2010

Photoshop

Photoshop adalah sebuah image editor, atau program penyunting gambar yang berfungsi untuk membuat, menyunting, dan memodifikasi gambar-gambar digital yang terdapat di dalam komputer.

Photoshop merupakan program penyunting gambar yang paling hebat dan paling popular hingga saat ini. Kemampuan serta fasilitasnya yang lengkap membuatnya diminati oleh para seniman, professional, maupun pemula yang membutuhkan sebuah program gambar yang lengkap namun mudah dalam penggunaannya.

Bagi anda yang senang coba-coba edit gambar dengan photoshop, silahkan download free ebooknya di sini.




Free Download Novel Keren

gugling gugling ketemu digibook novel bagus. silahkan yang mau download:

1. Download Hafalan Shalat Delisa

2. Download Samita - Sepak Terjang Hui Sing Murid Perempuan Cheng Ho

3. Download Dalam Mihrab Cinta

Kalau suka Puisi Cahaya Bulan, ini ada MP3 nya yang dibacakan Nicholas Saputra... cekidot!

Cahaya Bulan


akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yg biasa
pada suatu ketika yg telah lama kita ketahui
apakah kau masih selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap

sambil membenarkan letak leher kemejaku

kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
lembah bandalawangi
kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan-hutan yg menjadi suram

meresapi belaian angin yg menjadi dingin

apakah kau masih membelaiku semesra dahulu

ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra
lebih dekat

apakah kau masih akan berkata
kudengar detak jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

*GIE


Hujan Bulan Juni


tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

*eyang Sapardi D Damono
MP3 nya bisa diklik di sini

Friday, November 12, 2010

Oret Oret



Hidup itu seperti layang-layang..., katamu suatu kali
agar derajatnya mampu naiki ke tempat yang lebih tinggi
ia harus ditarik dan diulur
maka, bersyukurlah bila masih ada 'tarikan' dan 'uluran'
yang menemani langkah letihmu itu


Tapi, aku sebenar-benar lelah...
itu wajar, sebab kau manusia, jawabmu lagi
tapi, bila kau tak ingin
silahkan berharap 'benang'mu diputus olehNya
'tarikan' dan 'uluran' tak kan pernah mengganggumu lagi
yang artinya juga kau telah ditinggalkan olehNya
biarkan dirimu bebas terbang kemanapun angin membawamu
berakhir di pohon tinggi, atau hancur lebur di tepian pantai
Itukah inginmu?
Tidak...! jawabku spontan
Na'uzubillah, tsumma na'uzubillah

Baiklah...
Biar. Biarkan saja seisi dunia tak memihakku
Karena sungguh hasbika, hasbika ya Rabbi
Selama Kau ada, yang lain biar saja tak ada
Biar sepi. Biar! asalkan Kau tetap di sisi
Karena ramai tanpaMu terasa jauh lebih sunyi

*Di sini Tuhanku, dekat denganMu...pojok Parijs Van Java

Sebuah Nama, Sebuah Cerita

Gadis kecil itu sedang bermain riang di taman surga…

Tawanya, celoteh polosnya, naik turunnya dalam gendongan, genggaman tangannya. Semua itu harta tak ternilai bagiku. Karena hanya di bening matanyalah aku merasa benar-benar pulang. Pun karena di sanalah aku tidak pernah –dan tidak perlu- merasa khawatir akan hari esok. Dan ketika saat ini sebenar-benarnya dia pulang. Izinkanlah aku, Tuhanku, Engkau jemput aku dalam pulangku. Selayaknya dia, suci bersih dengan senyuman.

Dek, terakhir kali bertemu, engkau sedang terlelap dalam tidurmu. Tak tega rasanya mengganggu lelapmu. Tapi ketika hari ini kau sebenar-benar lelap dalam tenangmu. Menyesal kenapa kemarin tidak membersamaimu sebentar saja. Tapi kau telah memilih lebih lelap bersama Tuhanmu. Dan Dia yang Maha Kasih Maha Sayang memilih ingin segera bersamamu. Kami ikhlas Rabb…

*) Selesai shalat di kosan
Menyadari bahwa kau telah pergi
Tak akan ada lagi melerai sepi
Ketika diujung telepon kau selalu menjawab panggilku dengan lucumu
‘dalleeemm…’ katamu
Lumer bagaikan mentega di seiris roti panas
Seperti itulah hatiku mendengarnya
Luruhlah segala letih…
Luruhlah gundah…

To mba:
Mbak, Akan tiba suatu masa, ketika kau menyadari bahwa riak bening di telaga Kautsar adalah muara air mata kesabaranmu di dunia, langit yang menopang keberadaanmu di sisi-Nya adalah rajutan ketegaranmu, dan sinar yang memancar dari setiap sudut istana abadimu adalah senyum keikhlasanmu.

Karena itu, bertahanlah. Jangan biarkan sungai ujian ini menghanyutkanmu, bahkan merenggut akarmu yang tersisa. Sampaikan rindu untuknya, lihatlah ia akan memelukmu dan membisikkan ke hatimu, “semuanya akan baik-baik saja ibu... ayah…”

** Untuk sebuah nama yang akan selalu menemani sisa langkah ceritaku… dek Kalifa Firdausy Fahrin

Thursday, June 26, 2008

Mahasiswa Gelar Unjuk Rasa di Pasar (riauterkini.com)

Ada-ada saja aksi mahasiswa dalam menyadarkan menarik simpati masyarakat. Aktifis BEM Unri, UIR dan UIN Suska mengajak masyarakat anti politisi busuk dengan berdemo di pasar.

Riauterkini-PEKANBARU- Piluhan aktifis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Riau (Unri), Universitas Islam Riau (UIR) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Pekanbaru menggelar aksi unjuk rasa dalam rangka menentang eksistensi politisi busuk, Senin (2/6). Aksi ini menjadi berbeda dengan aksi serupa pada umumnya karena tak digelar di gedung DPRD atau di kantor Gubernur Riau, melainkan di depan Pasar Sukaramai Pekanbaru.

Di depan Pasar Sukaramai atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan Plaza Sukaramai di tepi Jalan Jendral Sudirman, para mahasiswa membentang spanduk dan poster, serta secara bergantian menyampaikan orasi. Mereka mengutuk prilaku para politisi busuk yang tak pernah peka pada penderitaan masyarakat. Lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan kepentingan golongan.

Dalam aksinya para mahasiswa juga meminta dukungan dari masyarakat untuk menghentikan eksistensi politisi busuk dengan cara meminta tanda tangan warga. Aktifis minta tanda tangan dengan cara mendatangi pengunjung dan pedagang di Plaza Sukaramai. "Kami minta masyarakat tegas dalam bersikap menolak keberadaan politisi busuk, karena itu kita minta tanda tangan mereka," ujar Ketau BEM Unri Fajri Arifyanto kepada riauterkini disela-sela aksi.

Selain itu, mahasiswa juga membagi-bagikan pamflet berisikan ciri-ciri politisi busuk yang harus dicabut dukungannya. Menurut mahasiswa, politisi buruk adalah mereka yang telah diberi amanah rakyat sebagai anggota parlemen atau kepala daerah, namun justru ingkar janji kepada rakyat, terlibat korupsi, melanggar HAM, merusak lingkungan dan melakukan tindak asusila.

Keberadaan aksi mahasiswa tersebut tak urung menarik perhatian para pengunjung pusat perbelanjaan tersebut. Bahkan sejumlah kendaraan yang hendak masuk mal berhenti sejenak untuk melihat aksi mahasiswa, sehingga sempat membuat macet. Meski demikian, secara umum aksi berjalan lancar dan tak mengganggu ketertiban.***(mad)

Monday, May 19, 2008

Aksi Pawai Sepeda Kritisi FFI di Riau

BWM UNRI: FFI=Festival Folitik I'edan

Puluhan aktifis BEM Unri turun ke jalan. Mereka menentang digunakannya APBD Riau untuk ajang FFI. Menurut mereka FFI tak ubahnya permainan politik gila.

Riauterkini-PEKANBARU- Sekitar pukul 16.30 WIB, Jumat (30/11) puluhan aktifis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Riau (Unri) menggelar aksi turun ke jalan. Aksi ini sebagai bentuk penolakan terhadap keputusan Gubernur Riau M Rusli Zainal mengalokasikan APBD Riau Rp 7,2 miliar untuk pergeralan Festivas Film Indonesia (FFI) 14 Desember mendatang.

Aksi BEM Unri kali ini dipusatkan di bundaran air mancur Jalan Jendral Sudirman. Para pendemo membawa sejumlah poster dan sebuah spanduk bertuliskan "Selamat Datang Festival Folitik Iedan di Provinsi Risau". Selain itu berorasi, para pengunjuk rasa juga menggelar teatrikal menggambarkan sebuah pesta pora di tengah duka masyarakat Riau yang masih banyak terhimpin kemiskinan dan kebodohan.

Dalam aksi teatrikal tersebut, sepasang mahasiswa berperan sebagai bintang film. Selain mendapat kalungan bunga, sang mahasiwi memegang sebuah "Piala Citra". Keduanya tertawa-tawa sambil memadang belasan mahasiswa yang bergelimpangan yang menggambarkan masyarakat Riau yang kelaparan dan bodoh.

Aksi teatrikal tersebut tak urung menarik perhatian para pengguna jalan. Arus lalu-lintas agak tersendat karena sejumlah kedaraan meperlambat laju karena ingin melihat aksi para mahasiswa. Untuk menjaga segala kemungkinan buruk, nampak sejumlah polisi melakuka pengamanan.

Presiden BEM Unri Fajri Ariefyanto dalam orasinya menegakan, bahwa aksi yang digelar sebagai bentuk penyadaran kepada Gubernur Riau bahwa kebijakannya sangat jauh bertentangan dengan program pengentasan kemiskinan dan kebodohan. "Pemprov dan masyarakat Riau harus sadar, bahwa FFI tak lebih dari hura-hura. Pesta pora di tengah penderitaan masyarakat Riau yang masih banyak kelaparan dan bodoh," kritiknya dalam orasi.

Kegiatan lain yang dilakukan mahasiswa selama sekitar satu setengah jam berdemo adalah membagikan selebaran kepada para pengguna jalan. Sebelum membubarkan diri, Fajri menegaskan aksi petang tadi merupakan permulaan dari aksi penentangan FFI di Pekanbaru. "Ini baru awal, kita akan terus menentang pemborosan uang rakyat untuk pesta pora tak berguna bernama FFI," tegasnya.***(mad/yd)

HUT RIAU DI GEDUNG RAKYAT BERJALAN AMAN
Massa KAMMI, BEM UNRI dan UIR Marah
09 Aug 2007 16:35 wib
Dodi Devira

PEKANBARU (RiauInfo) - Dikala beberapa pejabat Riau melakukan Rapat Paripurna Istimewah DPRD Provinsi Riau bersempena Hari Ulang Tahun Emas ke-50 Riau, ribuan massa yang terdiri dari massa SEGERA, KAMMI dan BEM UNRI-UIR mengelar aksi demo di depan Gedung Rakyat. Dari pantauan RiauInfo dilapangan Hut Riau di Gedung Rakyat (DPRD Riau) berjalan aman.

Hanya saja dalam aksi demo KAMMI, BEM UNRI dan UIR marah dan memberontak karena aspirasi mereka tak didengarkan. Oleh karena itu, lebih kurang ratusan massa KAMMI, BEM UNRI dan UIR. Saking kesalnya, mereka yang telah lama menunggu didepan pintu pagar Kantor DPRD Riau langsung melemparkan lebih kurang 20 buah tomat dan beberapa kota emas dari karton yang bertuliskan macam-macam.

50 tahun sudah usia Provinsi Riau. Masyarakat, pemerintah dan seluruh elemen daerah mesti menjadikannya sebagai motivasi tersendiri untuk melanjutkan langkah kedepan menuju Riau sejahtera. "Kita menginginkan wajah Riau kedepan wajah yang lebih baik. Kita menginginkan kondidi Riau lebih baik dari berbagai prospek seperti politik, ekonomi, sosial budaya, hukum, pendidikan dan lingkungan," ungkap Presiden BEM UIR, Fajri Ariefyanto kepada RiauInfo disela orasi di depan Kantor DPRD Riau, Kamis (9/8).

Menurut Fajri, perpolitikan daerah ini (Riau) masih saja menyisakan ruang bagi politisi busuk yang kerap menjulurkan lidahnya menggerogoti APBD setiap tahunnya. Sistem sosial juga belum mampu membersihkan dirinya dari kungkungan premanisme dan bandit-bandit sosial yang tidak kalah bobroknya dengan aparat penegak hukum. Belum lagi budaya Riau, yang semakin tergerus dengan pemahaman nilai-nilai kemelayuan sebatas simbol dan uniform.

Kondisi lingkungan yang semakin memprihatikan akibat perselingkuhan sejati si penguasa culas dengan pengusaha berhati srigala. Lalu ironisnya, pendidikan telah menjadi komoditias politik untuk dimanfaatkan sebagai magnet pengumpulan alokasi anggaran sebanyak-banyaknya bagi kepentingan sang koruptor. Tiga misi utama yang pelaksanaan otonomi daerah juga nyaris diabaikan. Pertama, kualitas dan kuantitas pelayanan publik yang belum sebanding dengan anggaran yang dimiliki. Kedua, efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumberdaya daerah yang masih amburadul dan ketiga, belum adanya pemberdayaan dan penciptaak ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.

Adapun bentuk dari tuntutan KAMMI, BEM UNRI dan UIR adalah wujudkan kepemimpinan daerah yang jujur, amanah, dan tegas sebagai pemegang hak otoritas eksekusi kebijakan, percepatan penciptaan iklim partisipasi publik, tegakan hukum dengan benar dan bebaskan dunia pendidikan dari jerat-jerat ketidakadilan tangan-tangan koruptor.

Sementara itu, Ketua DPRD Riau, drh.H.Chaidir MM menambahkan semua aspirasi yang telah disampaikan tersebut diterima. "Bahan ini akan kami jadikan kajian untuk kedepannya. Sehingga semua permasalahan yang ada saat ini dapat kita atasi dengan baik," tandasnya. (Dd)

Monday, January 21, 2008

Berjuta hikmah yang sering tersia

Terkadang Allah sembunyikan matahariNya, kemudian dia datangkan hujan kilat dan petir.. Kita menangis dan bertanya-tanya di mana hilangnya sinar matahari. Rupa-rupanya Allah hendak hadiahkan kita PELANGI.

Saturday, November 10, 2007

Menangislah Wahai Pahlawan

DEMO PAHLAWAN: Puluhan aktivis BEM Unri memperingati Hari Pahlawan 2007 dengan menggelar aksi keprihatinan dengan berdemo di tepi jalan dan berziarah ke Taman Makam Pahlawan, Sabtu (10/11). Mahasiswa prihatin perjuangan para pahlawan dikhianati (Riauterkini.com)

Kepada rekan-rekan BEMers tetaplah berjuang. Karena perjuangan ini telah terlanjur kita mulai.

Sunday, October 28, 2007

Sedikit saja...

Sedikit saja, di Hari peringatan Sumpah Pemuda yang diikrarkan 79 tahun silam, 28 Oktober 1928, kuperdengarkan pesan Chairil Anwar dan tulang-tulang berserakan lainnya untuk kalian wahai para pemuda…

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami Cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Dan, bertanyalah kita, Apakah makna yang kita berikan kepada mereka, tulang-tulang berserakan itu? Apakah memang tak ada lagi wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pemuda sejati? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan pemuda seperti Khalid bin Walid?

Ataukah, tak ada lagi ibu yang mau, seperti kata Taufiq Ismail di tahun 1966, “merelakan kalian pergi berdemonstrasi… karena kalian pergi menyempurnakan… kemerdekaan ini.”

Relakan kami ibu… relakan kami… Allahuakbar…

Thursday, October 25, 2007

Puisi Sang Pejuang

Wahai Jiwa,
Kau harus turun berlaga, atau
Kupaksa kau turun
Mengapa kau tampak enggan
Menggapai surga


Saya terhenyak...

Benar, saya terhenyak ketika membaca bait puisi ini. Ada sesuatu di dalamnya. Ada sebentuk kekuatan yang begitu menghentakkan dan mengguggah. Entah apa yang ada di balik puisi ini yang begitu memiliki kekuatan yang teramat dahsyat. Mungkin ini berlebihan, mungkin pula saya hanya terbawa suasana hening dan tenang. Tapi bagaimanapun bait puisi ini begitu mengguggah.

Saya lanjutkan membaca agar mengetahui bagaimana puisi ini tercipta...

... Ketika itu, pasukan Muslim sedang mengalami sebuah situasi sulit dalam perang Mu'tah. Abdullah bin Rawahah sekejap merasa keraguan di dalam hatinya dalam menghadapi maut. Dengan mengumpulkan segenap keberanian atas rasa cinta dan rindu kepada Tuhannya beliau mengusir keraguan itu dengan puisi. Dan terciptalah bait puisi seperti yang saya tuliskan di atas. Setelah itu keberaniannya kembali terkumpul. Ia pun maju, bertempur dan menggapai cita-citanya: SYAHID di jalan Allah.

Subhanallah, pantas saja...

Ada fenomena unik yang masih belum saya temukan jawabannya secara memuaskan. yaitu hubungan yang saya anggap misterius antara para pejuang sejati dengan puisi dan sastra. Bahkan sosok yang terkenal berkarakter keras dan tegas seperti Umar bin Khattab pun menganjurkan sastra untuk anak-anak. Karena sastra, kata Umar, dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.

Rasulullan saw sendiri menyukai puisi dan menghapal beberapa bait puisi Arab kuno serta mengenal para penyair. Para sahabat di zaman Rasul saw dan sesudahnya juga menggunakan puisi sebagai cara untuk membangkitkan semangat.

Di kalangan para ulama dan aktivis dakwah zaman ini juga kita juga temukan hal yang sama. Buka dan bacalah karya-karya Dr. Yusuf Qardhawi, Ghazali dan... bukankah salah satu kekuatan tafsir Fi Dzilalil Qur'an, karya Sayyid Quthb, adalah kekuatan sastranya? bahkan Imam Syafi'i dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mewariskan kumpulan puisinya untuk kita.

Fenomena ini, kata Anis Matta dalam karyanya mencari pahlawan Indonesia, menjelaskan bahwa para pahlawan sejati selalu menyimpan kelembutan hati yang membuat nuraninya senantiasa bergetar setiap kali menyaksikan berbagai peristiwa yang mengharu biru; yang membuat semangatnya menggelora setiap kali ia menghadapi tantangan dan panggilan kepahlawanan; yang membuat kesedihannya menyawat jiwa setiap kali ia menyaksikan kezaliman, kepapaan dan kenestapaan; yang membuat kerinduannya mendayu-dayu setiap kali ia diingatkan pada cita-citanya. Intinya, kelembutan jiwa memberikan mereka kemampuan mengapresiasikan kehidupan secara baik dan intens.

MAKA...

Pantas saja saya terhenyak membaca bait puisi di atas karena ia tercipta memang untuk mereka yang begitu rindu meneruskan jejak langkah para PAHLAWAN.

(Tulisan di blog ini terinspirasi ketika tenggelam dalam karya indah dan bermakna Anis Matta, ‘Mencari Pahlawan Indonesia’)

Tuesday, October 23, 2007

Dinasti Ming, Membangun Khilafah Islam di Cina

Kagum dengan Christopher Colombus yang berhasil menemukan benua Amerika pada tahun 1492? Atau Vasco da Gama yang berlhasil melakukan pelayaran dari Portugis ke India pada tahun 1497? Saya juga kagum dengan mereka, tapi lebih kagum lagi dengan tokoh yang satu ini: Laksamana Cheng Ho (Zheng He).

Selama hidupnya, Cheng Ho melakukan petualangan antar benua selama 7 kali berturut-turut dalam kurun waktu 28 tahun (1405-1433). Tak kurang dari 30 negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika pernah disinggahinya. Wah... hebat sekali. Pelayarannya bahkan lebih awal 87 tahun dibandingkan Columbus.

Laksamana Cheng Ho hidup pada masa Dinasti Ming di China. Dinasti Ming adalah masa kekuasaan Islam di China. Ternyata Islam pernah berkuasa di China ya? Makanya pada postingan kali ini saya tertarik untuk menulis tentang Dinasti Ming di Cina, lain kali kita cerita tentang laksamana Cheng Ho ya...



Gbr. Masjid yang pernah dibangun di masa kekuasaan Dinasti Ming. Berlokasi di kota Yin Chuan


Dinasti Ming muncul setelah masa kekuasaan Dinasti Yuan (Mongol), dimana pada akhir kekuasaannya Dinasti Yuan sedang digegoroti oleh krisis moneter berkepanjangan. Pengelolaan uang kertas yang sembarangan membuat nilai mata uang itu turun. Kepercayaan mata uang kertas yang diberi nama yuan (sesuai dengan nama dinasti yang berkuasa) pun hilang. Selain itu Kaisar Mongol juga harus membiayai pembangunan kanal dari utara ke selatan, menghubungkan Sungai Huang Ho dan Yang Tse Kiang. Keadaan ekonomipun dengan cepat berubah menjadi kacau. Kesejahteraan rakyat terpuruk sehingga pemberontakan rakyatpun tidak bisa dibendung. Kekuatan pemberontak terhimpun dari kalangan pekerja yang membangun kanal. Mereka dipimpin oleh seorang pemuda Muslim bernama Chu Yuan Chang.

Chu adalah menantu dari seorang jenderal muslim bernama Kok Tze Hin. Panglima Kok Tze Hin menyerahkan pasukan yang berada di bawah perintahnya kepada Chu Yuan Chang. Pasukan ini berasal dari wilayah sekitar Yang Tse Kiang. Kemudian para pemuda Han pun ikut bergabung.

Dengan strategi yang disusun oleh Panglima Chu Yuan Chang dan bantuan yang diberikan oleh isterinya, Putri Peony yang muslimah, akhirnya mereka berhasil merebut kota Nanking yang berada di daerah selatan sungai Yang Tze Kiang. Pasukan rakyat saat itu juga berhasil menyerbu ke utara dan berhasil merebut kota Peking, ibukota Khanbalik.

Chu Yuan Chang akhirnya mengumumkan pembentukan pemerintahan Dinasti Ming. Chu mengambil nama Ming dengan pertimbagan dia ingin nama dinastinya bermakna sama dengan gelar Madinah. Ming berarti Al Munawarah yang berarti gilang gemilang. Panglima Chu Yuan Chang muncul sebagai kaisar pertama dari Dinasti Ming (1368-1644 M). Dia dipanggil dengan Kaisar Hung Wu, tetapi sejarah lebih mengenalnya sebagai Kaisar Chu Yuan Chang dan isterinya dipanggil Ratu Ma (Ratu Muhammad). (dari berbagai sumber)

Saturday, October 20, 2007

Catatan Sebuah Perjalanan...

Di masa pembangunan ini,” kata Chairil Anwar mengenang Diponegoro, “Tuan hidup kembali. Dan bara kagum menjadi api.


Perjalanan liburan kampus yang menyenangkan…
Sumatera Barat… mendengar daerah itu disebut, dalam pikiran saya langsung tergambar sebuah pemandangan indah dengan hamparan sawah hijau yang begitu menyejukkan mata siapapun yang memandang. Kehidupan masyarakat yang identik dengan Islam dimana surau atau masaji’ (Masjid) dijadikan benar-benar sebagai pusat peradaban (bukan hanya pusat peribadatan). Anak-anak dengan kupiyah dan kerudung bersicepat untuk sampai ke surau belajar mengaji di petang hari. Anak-anak remaja perempuan yang tak pernah sudi meninggalkan pakaian taqwanya walau di seberang sana orang-orang sedang terlena dan dinina-bobokan oleh proyek ghozwul fikrinya musuh-musuh Allah.
Pantas saja kemudian dari tempat ini lahir nama-nama besar yang kemudian menjadi tokoh yang amat disegani dan dihormati. Sebut saja Hatta, syahrir, Hamka, Natsir, bahkan Tan Malaka dan masih banyak lagi yang lain yang dicatat oleh sejarah negeri ini. Mereka berangkat dari berbagai sudut pandang ide dan gagasan yang berbeda, tak jadi soal. Begitulah tatanan kehidupan urang minang berkontribusi bagi bangsa ini. Bahkan ibu kota negarapun pernah dipindahkan ke daerah ini (baca: Bukit Tinggi).
Tapi… Sebuah pertanyaan selalu begitu mengganggu saya ketika kembali melihat kondisi kekinian saat ini. Dimana ibu-ibu urang awak sekarang seolah merajuk tidak mau melahirkan kembali para pahlawan bagi negeri ini. Apakah ini ‘masa kevakuman’ tokoh bagi orang minang?
Sayang sekali ‘masa kevakuman’ ini datang tepat ketika akhir-akhir ini krisis besar melanda negeri. Masa ketika kata Anis Matta “kita justru mengalami kelangkaan pahlawan”. Inikah yang diprediksikan oleh Anis sebagai “ isyarat kematian sebuah bangsa”?.” Jangan… janganlah kiranya malapetaka sakratulmaut itu terjadi,” ujar Taufiq Ismail.
Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan berkunjung ke tanah kelahiran orang tua di suatu daerah kecil di Sumatera Barat: Payakumbuh… Koto Baru-Sarik Laweh tepatnya. Tempat yang sangat menyenangkan… menikmati keindahan ciptaan Maha Pencipta. Dari atas bukit menyaksikan hamparan sawah hijau seolah permadani indah terbentang begitu luasnya ditemani udara sejuk menyegarkan. Subhanallah…
Tapi…
Satu hal yang tak saya temui tentang kehidupan orang Sumbar seperti yang tergambar dalam pikiran saya. Surau yang menjadi pusat peradaban kini seolah tak berfungsi, tidak ada lagi anak-anak dengan pakaian muslim belajar mengaji di sana. Anak-anak mudo juga tak menampakkan dirinya di sana. Apakah perubahan ini yang menyebabkan tidak lahirnya lagi tokoh-tokoh anutan dari negeri minang?

Wallahualam, Tapi yang jelas kita masih berharap dan merindukan kehadiran “pahlawan-pahlawan” yang membawa kita menuju perbaikan. Seperti Chairil Anwar tahun itu, 1943, merindukan Diponegoro. Seperti juga kita saat ini. Saat ini benar kita merindukan Pahlawan itu. Membawa kita dari hantaman krisis demi krisis yang telah meluluhlantakkan satu per satu sendi bangunan negeri kita. Negeri yang hampir seperti kapal pecah yang tak jemu-jemu dihantam gunungan ombak.

Sebagai orang Indonesia, walau tidak lahir di negeri Minang Kabau, saya bangga dengan daerah ini dan masih berharap serta merindukan kelahiran Hamka, Natsir, Syharir, dan Hatta baru dari asuhan seorang bundo urang minang yang akan memecahkan negeri dari kebuntuan. Mudah-mudahan…

Friday, October 19, 2007

Toilet Berbentuk Perempuan Berjilbab di Israel

Israel kembali melakukan penghinaan terhadap simbol-simbol Islam. Media massa Israel baru-baru ini melansir foto sarana buang air kecil yang dikeluarkan sebuah perusahaan di Israel, berbentuk perempuan berjilbab.

Jenis tempat buang air kecil ini, menurut media massa Israel sangat laris di p asaran Israel.

Sejumlah sumber seperti dikutip Albawaba menyebutkan bahwa bentuk toilet itu memang diarahkan untuk menghina simbol Islam dan kaum Muslimin. Produk pertamanya berasal dari AS dan diimpor ke Israel. Kini, bentuk toilet seperti ini sangat banyak didapati di Israel. (eramuslim.com)

Wednesday, October 3, 2007


"Taqobbalallahu Minna Waminkum, Shiyamana wa shiyamukum, Kullu 'Aamin wa Antum Bikhoir"

Kami mengucapkan selamat hari raya 'Idul Fitri 1427 H, semoga amal ibadah kita selama Ramadhan diterima oleh Allah SWT.

Teriring pula ucapan mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan dan kekhilafan kami, baik yang disengaja maupun tidak. Semoga Allah memberikan berkah bagi kita semua dengan saling memaafkan.

Semoga Allah mempertemukan kita kembali di Ramadhan tahun yang akan datang, amin.